No Image Available

Sejarah GKJ Mergangsan Melangkah Tanpa Lelah Menemukan Makna di Setiap Jejak

 Pengarang: 1. Ariani Narwastujati 2. Pdt. Em. Bambang Sumbodo (Penasihat) 3. Pnt. Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi 4. Lucia Nucke Idayani 5. Daniel Duta Nugraha 6. Padmana Grady Prabasmara  Penerbitan: KEP  Terbit: 2026  Halaman: 284  Bahasa: Indonesia More Details
 Sinopsis:

Bermula dari kepedulian akan penderitaan sesama dan kepercayaan. Pada awal abad XX, Sultan Hamengku Buwono VII memberi kepercayaan kepada Dokter J.G. Scheurer untuk merawat penderita lepra di Panti Miskin Tungkak. Sebagian besar dari mereka adalah orang miskin, termasuk gelandangan dan pengemis. Oleh karena itu, tempat tersebut dikenal sebagai rumah miskin atau rumah “pakèrèn”.

Perawatnya, Sambija Reksahoesada, diangkat menjadi petugas zending. Dua orang pegawainya adalah Patraredja (ayah dari Pdt. Ponidi Sopater) dan Sastradimedja yang tertarik belajar agama Kristen. Seiring berjalannya waktu, Petronella Hospital mendirikan cabang di Tungkak. Saat itu, Petronella Hospital—yang kini menjadi Rumah Sakit Bethesda—berada di kawasan Pakualaman.

Kawasan panti perawatan lepra rumah “pakèrèn” makin ramai, berkembang, dan maju. Perawat Moersiyo mengabdikan diri di Petronella cabang Tungkak. Dia melayani pasien melalui doa dan pujian kepada Tuhan. Setelah itu, ia baru memeriksa pasien dan memberi obat. Akhirnya, banyak orang mengenal Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.

Di masa lalu, ada beberapa cara efektif melakukan pelayanan, di antaranya melalui kesehatan dan pendidikan. Hal itu sejalan dengan kerja zending yang juga mendirikan sekolah di Tungkak. Makin banyak orang dibaptis. Banyak pula orang yang terlibat penginjilan.

Dengan tetap mengandalkan Tuhan, liku-liku perjalanan dilalui dengan sukacita, dari masa kolonial Belanda, masa perang kemerdekaan, Orde Baru, sampai era milenial. Berbagai kisah menarik pelayanan jemaat masa lalu terasa lucu dan menggugah memori. Para gembala gereja memaparkan keunikan dan mengungkap kisah jemaat yang mempunyai talenta khusus di bidang masing-masing. Termasuk bidang seni yang sebelumnya tersembunyi, akhirnya tersembul.

Pasamuwan Tungkak berdiri setelah GKJ Gondokusuman didewasakan pada 23 November 1913. Jemaat Tungkak merasa jauh dari Gondokusuman sehingga mereka ingin Tungkak mendirikan pasamuwan sendiri dengan nama Pasamuwan Tungkak. Saat itu, 15 Maret 1925, jemaat Tungkak resmi memiliki majelis gereja sendiri yang diketuai oleh Ds. A. Pos, dengan jemaat mula-mula hanya berjumlah 50 orang yang terdiri atas 12 keluarga. Kemudian, tanggal itu menjadi hari lahir GKJ Mergangsan yang kini genap berusia 100 tahun.

Allah nyata dalam karya-Nya. Bagi manusia hal tersebut tidak masuk akal, tetapi bagi Tuhan sangat mungkin. Kewajiban kita adalah bersyukur. Ibarat sebuah biji gandum yang ditabur di tanah subur, mati dan tumbuh menjadi besar, berkembang, serta berbuah lebat. Demikian pula GKJ Mergangsan, dari dua orang menjadi ribuan jemaat. (*)

 

 Kembali
Scroll to Top