Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis (Volume 1)
Pengarang: Mgr. Frans Nipa; Darmin Mbula, OFM; Biru Kira, Pr; Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA; John Giyai, S.Ag., M.Si.; Emanuel Kemong, S.E.; Nurhaidah, S.E.; Yulianus Kuayo, S.H.; Andreas Madya Sriyanto, SCJ; Drs. Ignatius Robertus Adii, B.A., M.MPd.; Simon Ishak Mendopma; Dr. Benedictus Hari Juliawan, SJ; Prof. Dr. Yustinus Budi Hermanto, Pr.; Dr. Bernardus Renwarin; Dr. Albertus Heriyanto; Dr. A. Setyo Wibowo, SJ Penerbitan: KEP Terbit: 2026 Halaman: 314 Bahasa: Indonesia More DetailsInilah potret nyata dari kondisi pendidikan di Nusantara. Jumlah siswa di sekolah dasar hingga menengah terus naik. Namun, kemajuan kemampuan numerasi anak bangsa berjalan sangat lambat.
Tahun 2018, Centre for Education Economics menerbitkan laporan berjudul “15 Years of Education in Indonesia: Rising Enrolment and Flat Learning Profiles”. Tulisan tersebut dikomentari oleh tokoh pendidikan global bernama Lant Pritchett. Data menunjukkan probabilitas siswa dalam menjawab soal matematika dasar sangat rendah. Banyak anak lulusan sekolah menengah tidak mampu berhitung dasar.
Sebagai contoh, mereka kesulitan menjawab pengurangan pecahan sederhana seperti 1/3−1/6. Peningkatan kemampuan berhitung nasional dari tahun 2000−2014 hanya 0,2 persen atau sekitar 0,017 persen saja per tahun. Lant Pritchett memberikan sebuah simulasi perhitungan matematis. Jika targetnya 50 persen pemuda bisa menjawab soal aritmetika sederhana, maka Indonesia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapainya. “Supaya 50 persen generasi muda bisa menjawab 8 pertanyaan tentang aritmetika, menurut Lant Pritchett, tampaknya Indonesia akan butuh 1.112 tahun. Artinya, kita baru siap memasuki era AI (di abad ke-21 ini) kira-kira di abad ke-31 nanti,” ujar Dr. A. Setyo Wibowo, SJ, salah satu nara sumber lokakarya.
Angka 1.112 tahun adalah sebuah ironi. Potret buram itu hanya bisa dilawan lewat pendidikan, seperti kemampuan literasi dan numerasi anak didik. Namun, utamanya adalah melatih siswa menjadi manusia yang independen. Mereka harus berjiwa bebas merdeka dan tidak mudah ditundukkan. Siswa harus kreatif menghasilkan sesuatu yang baru bagi sekitarnya.
Kualitas pendidikan di Papua berada di urutan terbawah. Untuk mencari solusi, kita perlu memahami masalahnya dengan data tanpa lupa konteks historisnya. Dibutuhkan pula kajian-kajian multidisipliner, seperti spiritualitas, sosiologi, antropologi, dan filsafat. Anda bisa menyimaknya secara lengkap pada buku Volume 1 ini.
Meskipun kajian-kajian ini disampaikan untuk Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah Keuskupan Timika, materi ini sangat relevan bagi dunia pendidikan di seluruh Tanah Papua, bahkan di seluruh Nusantara. Semoga buku ini menginspirasi praktisi dan pemerhati pendidikan yang merindukan pemecahan mendasar atas semua masalah yang tak terpecahkan. (*)
