Deschooling Society, Relevankah?: Mengenang 55 tahun karya Deschooling Society Ivan Illich
Pengarang: Dr. Yohanes Mariano Dangku, S.Fil., M.Pd; Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd; Dr. Jonas K.G.D. Gobang, S.Fil., M.A; Fransiskus Nala Kartijo Udu, Lic. Theol; Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum; Dr. Lukas Bera, S.Pd., M.M; Dr. Hermus Hero, S.Ag., M.Pd.; Dr. Henderikus Dasrimin, S. Fil., M.Th., M.Pd.; Dr. Hendrikus Midun, S.Fil., M.Pd.; Dr. Br. Yosep Undung, SVD, M.A.Ed.; Dr. Yohannes Don Bosco Doho, S.Phil., M.M.; Dr. (Candidate) Petrus Redy Partus Jaya, S.Fil., M.Pd.; Dr. (Candidate) Petrus Redy Partus Jaya, S. Fil., M.Pd.; Dr. Marianus M. Tapung, S. Fil., M.Pd.; Agustinus Rahmanto, S.S., M.Ed.; Fransiskus Soda Betu, S.Fil., M.Pd.; Dr. (Candidate) Florentina Ina Wai, S.PSi., M.M.; Siprianus Kantus, S.Fil.; Dr. Hubertus Aliansi Jehata; Dr. Agustinus Manfred Habur; Dr. Anselmus Dore Woho Atasoge; Dr. Yohanes Hans Monteiro; Dr. Desak Made Anggraeni, M.Pd.; Dr. Cornelia Hildegardis, S.T., M.T; Dr. Yosefina Andia Dekrita, S.E., M.M.; Dr. Ir. Sandy I. Yansiku, S.T., M.T., M.Eng.; Eduardo Edwin Ramda, S.E., M.Han.; Dr. Ans Prawati Yuliantari, M.Hum.; Dr. (Candidate) Florentianus Dopo, S.S., M.Pd. Penerbitan: KEP Terbit: 2026 Halaman: 674 Bahasa: Indonesia More DetailsGagasan “Deschooling Society”, Relevankah? adalah sebuah bunga rampai yang tidak sekadar merayakan lima puluh lima tahun kritik Ivan Illich, melainkan mengujinya kembali di hadapan realitas pendidikan Indonesia kontemporer. Buku ini lahir dari kolaborasi tiga institusi pendidikan tinggi di Flores; Unika Santu Paulus Ruteng, STIPAR Atma Reksa Ende, dan Universitas Nusa Nipa Maumere; yang secara reflektif mempraktikkan apa yang dikritisi Illich sendiri: pengetahuan yang tumbuh dari jejaring relasi lintas kampus, bukan dari otoritas tunggal yang tersentralisasi.
Melalui dua puluh tujuh kontribusi lintas disiplin, buku ini menyusun sebuah dialektika, bukan pembenaran sepihak. Pada satu sisi, sejumlah penulis merekonstruksi fondasi filosofis Illich; konvivialitas sebagai rem etis atas skolastifikasi, epistemic disobedience sebagai model dekolonial, hingga pertautannya dengan Wittgenstein dan teologi inkarnasi Logos; untuk menunjukkan bahwa kegelisahan Illich tentang institusi yang membekukan pembelajaran tetap tajam. Pada sisi lain, para penulis juga menempatkan kritik itu dalam ketegangan dengan realitas: pergeseran ijazah dari penanda kompetensi menjadi sekadar “modal kredensial”, tiga fase reduksi pendidikan (schooling, learnification, datafication), serta data empiris ribuan siswa yang memperlihatkan bagaimana kecerdasan manusia terus-menerus direduksi menjadi angka.
Yang membuat buku ini secara filosofis menarik adalah keengganannya untuk berhenti pada penolakan institusi secara harfiah. Alih-alih menegaskan “sekolah harus dihapuskan”, sebagian besar penulis justru mencari ruang ketiga: keluarga sebagai fondasi primer pendidikan, kearifan lokal Manggarai dan Flores sebagai epistemologi tanding, arsitektur sekolah sebagai “laboratorium hidup”, bahkan musik rap dan budaya populer sebagai tools for conviviality yang menjaga otonomi kultural di tengah algoritma digital. Di sinilah kritik Illich diuji ulang: bukan sebagai dogma anti-sekolah, melainkan sebagai cara berpikir yang menolak menyerahkan kedaulatan belajar kepada sistem, kurikulum, atau data semata.
Secara keseluruhan, buku ini menempatkan diri sebagai pertanyaan terbuka, bukan jawaban final. Ia mengajak pembaca merenungkan paradoks mendasar pendidikan modern: ketika institusi yang diciptakan untuk memanusiakan justru berisiko menjinakkan; melalui skolastifikasi, kredensialisme, dan datafikasi; maka tugas filosofis pendidikan bukanlah menghancurkan institusi, melainkan terus-menerus mempertanyakan wewenangnya untuk menentukan siapa yang boleh dianggap “belajar” dan siapa yang tidak. (Mantovanny).
