No Image Available

Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan

 Pengarang: FX. Sugiyana, Pr.  Penerbitan: Gerejawi  Terbit: 2026  Halaman: 152  Bahasa: Indonesia More Details
 Sinopsis:

Dalam perjalanan 5 tahun ke depan, masyarakat terus mengalami perubahan sosial, ekonomi, budaya, teknologi, dan lingkungan, yang membuka peluang makin luas bagi partisipasi, jejaring, kreativitas, dan peningkatan mutu kehidupan. Selain itu, masyarakat masih menghadapi persoalan ketidakadilan dan kesenjangan sosial-ekonomi, kerentanan kelompok kecil dan lemah, persoalan penghormatan terhadap martabat dan hak asasi manusia, tantangan kehidupan demokrasi dan kebijakan publik, menguatnya kebutuhan akan dialog dalam masyarakat yang majemuk, serta persoalan ekologis.

Gereja memiliki tanggung jawab penuh terhadap segala kondisi sosial itu. “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia zaman sekarang, terutama yang miskin dan menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus juga” (Gaudium et Spes art. 1). Keuskupan Agung Semarang bercita-cita menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan, sebagaimana terumus dalam Arah Dasar IX 2026-2030, yang merupakan langkah nyata mewujudkan peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, sebagaimana telah dirumuskan dalam Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 2016-2035.

Buku Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan ini disusun sedemikian untuk mengungkapkan sebuah perjalanan pendalaman ARDAS secara bertahap. Angka 31 (tiga puluh satu) dalam subjudul memuat banyak makna. Pertama, menunjuk pada jumlah tema yang dibahas dalam buku ini. Kedua, dapat dipahami sebagai simbol perjalanan harian dalam satu bulan. Ketiga, angka 31 juga menggambarkan langkah-langkah pendalaman ARDAS yang disusun secara sistematis. Buku ini tidak dimaksudkan sebagai uraian teologis yang rumit, tetapi sebagai bahan pendalaman yang membantu siapa saja yang mau mendalami ARDAS secara lebih personal dan komunal. Karena itu, setiap bagian dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi yang dapat digunakan untuk pendalaman bersama. Buku ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan dalam kehidupan Gereja. Para imam, pelaku pastoral, dan umat beriman lainnya dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman mereka tentang arah pastoral Gereja dan melibatkan diri secara tulus dalam Gerak Pastoral Keuskupan Agung Semarang.

Semoga buku ini bisa membantu siapa pun yang ingin memahami, menghidupi dan berpartisipasi dalam semangat dan gerak mewujudkan peradaban kasih di tengah masyarakat Indonesia.

 Kembali
Scroll to Top