No Image Available

Metodologi Membaca Konstitusi

 Pengarang: J. Darminta, SJ  Penerbitan: Gerejawi  Terbit: 2026  Halaman: 72  Bahasa: Indonesia More Details
 Sinopsis:

Meskipun menghayati karisma Roh Kudus, lembaga hidup religius tetaplah merupakan realitas manusiawi. Lembaga hidup religius dapat jatuh pada status quo (terbiasa dan mau mempertahankan karena memberi keamanan dan kenyamanan); mengalami kemacetan dan formalisme dalam penghayatan hidup; bahkan tidak diatur dan dihayati sesuai dengan perubahan-perubahan zaman, seperti sosial, budaya, problem kehidupan baru, dan lain-lain; serta mengalami perubahan fisik dan psikis kaum religius, beserta sistem nilai yang makin disadari dan dihayati.

Gereja universal telah memprakarsai proses pembaruan untuk menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Sekarang sangat disadari bahwa pembaruan merupakan kewajiban tiada henti, suatu keniscayaan. Dalam sejarah Gereja, pembaruan hidup menggereja diprakarsai oleh tokoh-tokoh besar yang digerakkan oleh Roh. Sekarang, pembaruan yang diprakarsai oleh Gereja merupakan tanggung jawab semua pihak. Salah satu wujud dan hasil pembaruan ialah terbentuknya Konstitusi baru. Pertanyaannya, bagaimana Konstitusi itu sungguh meresap ke dalam hidup religius sehari-hari?

 Kembali
Scroll to Top